Krakatau 1883: Letusan yang Mengguncang Indonesia dan Mengubah Dunia

Nationalgeographic.co.id—Pada Mei 1883, kapten kapal perang Jerman Elisabeth melihat sesuatu yang tidak biasa di Selat Sunda. Dari sebuah pulau pegunungan tak berpenghuni di antara Jawa dan Sumatra, kolom asap dan abu menjulang ke langit.

Ia memperkirakan kolom itu mencapai ketinggian 6,8 mil atau sekitar 1,97 kilometer. Dalam laporan yang kemudian dihimpun oleh Royal Society Inggris, abu disebut turun begitu pekat hingga menutupi cahaya Matahari.

Selama beberapa bulan berikutnya, kapal-kapal lain yang melintasi kawasan itu juga mendengar gemuruh dari pulau tersebut. Namanya dalam bahasa Indonesia adalah Krakatau, meski kemudian lebih dikenal dunia sebagai Krakatoa—kemungkinan akibat kesalahan penulisan ketika sebuah berita dikirimkan.

Pertanda itu mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883. Hari itu, letusan vulkanik dahsyat menghancurkan Krakatau. Sekitar dua pertiga tubuhnya runtuh dan jatuh ke laut. Aliran lava, batu apung, dan abu dalam jumlah besar menyertai letusan.

Namun, kehancuran tidak berhenti di gunung tersebut. Ledakan memicu tsunami raksasa yang menerjang ratusan kota dan desa pesisir. Diperkirakan sekitar 36.000 orang meninggal, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Krakatau mencapai skala 6 pada Volcano Explosivity Index dan menjadi salah satu letusan gunung api terbesar yang terdokumentasi dalam 760.000 tahun sejarah alam terakhir.

Dalam artikel When Krakatoa Blew: How the 1883 Eruption Changed the World yang ditulis Patrick J. Kiger dan diperbarui HowStuffWorks pada 7 Maret 2024, letusan tersebut digambarkan bukan hanya sebagai bencana Indonesia, tetapi juga peristiwa yang pengaruhnya menjalar ke seluruh planet.

Suara Letusan yang Menjangkau Ribuan Kilometer

Daya letusan Krakatau begitu besar sehingga menghasilkan suara yang disebut NOAA sebagai suara paling keras dalam sejarah modern. Bunyinya terdengar di wilayah yang mencakup lebih dari 10 persen permukaan Bumi.

Di Mauritius, sebuah pulau di Samudra Hindia yang berjarak lebih dari 4.600 kilometer, orang-orang mendengar suara yang menyerupai tembakan meriam dari kejauhan.

Gelombang tekanan akibat letusan bahkan mengelilingi planet beberapa kali dan terekam sebagai lonjakan pada instrumen ilmiah di Inggris dan Amerika Serikat. Krakatau juga melontarkan sekitar 21 kilometer kubik material batuan yang hancur ke udara.

Abunya mencapai ketinggian sekitar 80 kilometer, hampir menyentuh tepi mesosfer Bumi, lalu menyelimuti wilayah seluas sekitar 776.996 kilometer persegi.

Sebuah laporan Los Angeles Herald dua minggu setelah letusan menggambarkan awan Krakatau sebagai awan hitam pekat yang menyebar di langit tropis dan membuat daratan terbenam dalam kegelapan. Abu itu kemudian bergerak lebih jauh.

Partikel-partikelnya perlahan menyelimuti planet dalam kabut yang menyebabkan terbentuknya lingkaran cahaya di sekitar Matahari dan Bulan. Abu juga menyaring cukup banyak radiasi Matahari sehingga suhu global turun hingga sekitar 0,5 derajat Celsius selama setahun setelah letusan, menurut NOAA.

Letusan Gunung Krakatau pada 1883, menghasilkan suara yang disebut sebagai yang paling keras dalam sejarah modern.

Litograf karya Parker & Coward dari Inggris/Wikimedia Commons

Letusan Gunung Krakatau pada 1883, menghasilkan suara yang disebut sebagai yang paling keras dalam sejarah modern.

Mengapa Krakatau Bisa Meledak Begitu Dahsyat?

Don Thomas, ahli geokimia sekaligus direktur Center for the Study of Active Volcanoes di University of Hawaii Hilo, menjelaskan kepada HowStuffWorks bahwa letusan 1883 berkaitan dengan proses kompleks di bawah tubuh gunung.

Dalam tipe letusan seperti ini, reservoir magma di bawah gunung mengeluarkan material dalam jumlah cukup besar hingga struktur di atasnya akhirnya runtuh.

Salah satu penjelasan yang berkembang adalah terjadinya percampuran magma di dalam dapur magma.

Reservoir magma dapat aktif selama bertahun-tahun dan sesekali mengeluarkan lava dalam jumlah relatif kecil. Namun, ketika magma dari bagian kerak yang lebih dalam naik ke bawah reservoir, sistem tersebut dapat menjadi tidak stabil.

Magma basaltik yang lebih panas dan memiliki kerapatan lebih rendah berada di bawah magma yang lebih dingin dan lebih padat.

Jika magma basaltik dalam jumlah cukup besar terkumpul, menurut Thomas, dapat terjadi pembalikan yang membawa magma panas menuju kedalaman yang lebih dangkal dalam waktu cepat.

Pada titik itu, gas mulai terlepas melalui saluran magma menuju permukaan dan memicu ledakan.

Ketika bagian atas gunung hancur, tekanan pada sistem berkurang. Bagian permukaan gunung kemudian runtuh ke dalam.

Masuknya air laut dalam jumlah sangat besar akibat keruntuhan tersebut menambah aktivitas eksplosif.

Tsunami yang Lebih Mematikan daripada Letusan

Dahsyatnya letusan Krakatau tidak sebanding dengan korban yang kemudian ditimbulkan oleh laut.Menurut NOAA, tsunami yang dihasilkan Krakatau bahkan lebih mematikan dibandingkan letusannya sendiri.

Sebagian gelombang mencapai Hawaii dan bahkan Amerika Selatan. Namun, dampak terparah terjadi di kepulauan Indonesia.

Gelombang setinggi hingga 135 kaki atau sekitar 41 meter menerjang kota, desa, dan permukiman di sepanjang pesisir Jawa dan Sumatra.

Di Batavia, yang sekarang menjadi Jakarta, sekitar 2.000 imigran Tionghoa yang tinggal di kawasan rendah di sekitar pelabuhan dilaporkan tenggelam.

Serang juga dilaporkan terendam seluruhnya, dengan hampir seluruh penduduknya tewas.Pada masa yang lebih awal, bencana seperti itu mungkin hanya dikenang sebagai tragedi lokal.

Krakatau berbeda. Letusan terjadi ketika manusia sudah memiliki telegraf, surat kabar cetak, dan instrumen ilmiah. Berita dapat dikirimkan melintasi wilayah luas, sementara dampak fisik letusan dapat dicatat dan diukur.

Thomas mengatakan, mungkin pernah terjadi letusan lain yang jauh lebih besar sebelum 1883. Namun, keterbatasan teknologi komunikasi pada masa sebelumnya menyebabkan hanya sedikit, atau bahkan tidak ada, catatan manusia mengenai peristiwa tersebut.

Krakatau kemudian menjadi salah satu bencana alam besar pertama yang benar-benar disaksikan dunia melalui jaringan komunikasi modern.

Krakatau Tidak Benar-benar Hilang

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar gunung asli, tetapi kisah Krakatau tidak berakhir di sana.

Empat puluh tiga tahun kemudian, sebagian daratan kembali muncul dari laut sebagai pulau baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Pada Desember 2018, Anak Krakatau kembali meletus dan menghasilkan gelombang air yang menyebabkan lebih dari 400 orang meninggal serta membuat sekitar 47.000 orang mengungsi dari rumah mereka, sebagaimana dikutip HowStuffWorks.

Ravindra Jayaratne, pakar teknik pantai dari University of East London, menilai Anak Krakatau akan kembali meletus dan masih memiliki potensi menimbulkan tsunami berbahaya.

Ia mendorong pemasangan sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi kenaikan muka air secara tiba-tiba serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rentan.

Namun, Thomas menilai kemungkinan Anak Krakatau menghasilkan peristiwa sebesar letusan 1883 sangat kecil.

Reservoir magma asli yang berperan dalam letusan tersebut, menurutnya, pada dasarnya telah hilang. Dibutuhkan pembentukan kembali reservoir magma baru—sebuah proses yang dapat berlangsung sangat lama—sebelum kondisi serupa mungkin kembali tercipta.

Peristiwa dengan skala seperti 1883, katanya, untungnya sangat jarang dan membutuhkan kondisi yang tidak biasa.Lebih dari satu abad setelah Krakatau meledak, kisahnya tetap menjadi pengingat bahwa sebuah letusan tidak berhenti pada batas sebuah pulau.

Pada 1883, Krakatau mengguncang pesisir Jawa dan Sumatra, mengirim gelombang tekanan mengelilingi Bumi, menyebarkan abu hingga atmosfer atas, memengaruhi suhu global, dan menjadi berita yang dibaca jauh dari tempat bencana terjadi.

Untuk pertama kalinya dalam skala seperti itu, dunia modern dapat menyaksikan bagaimana sebuah gunung api di Selat Sunda membuat seluruh planet ikut merasakan dampaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *