Pada malam tanggal 29 Maret 1867, menteri Rusia di Washington menyela permainan kartu Menteri Luar Negeri William Seward. Di tengah permainan, ia mengajukan sebuah tawaran: Rusia ingin menjual Alaska, seluruh wilayahnya seluas 1.518.800 kilometer persegi.
Seward tidak menunggu hingga pagi. Ia dan Baron Eduard de Stoeckl bekerja sepanjang malam dengan cahaya lilin. Mereka berhasil menyusun perjanjian pada pukul 4 pagi. Harganya mencapai 7,2 juta dolar AS, sekitar dua sen per acre.
Bagi banyak orang Amerika, kesepakatan itu tampak seperti kekayaan yang dibayarkan untuk kekosongan yang beku. Namun rupanya mereka salah.
Mengapa Rusia bersedia menyerahkan sebuah anak benua dengan harga murah? Untuk memahaminya, kita harus melihat berapa biaya yang telah dikeluarkan Rusia untuk koloni tersebut.
Bagaimana Rusia Mendapatkan Kepemilikan Alaska?
Klaim Rusia dimulai dengan bulu binatang. Ekspedisi Vitus Bering mencapai pantai Alaska pada tahun 1741. Kemudian, promyshlenniki Rusia, para pemburu dan pedagang bulu pribadi, memasuki Kepulauan Aleutian untuk memburu bulu berang-berang laut. Bulu berang-berang yang lebat itu dihargai tinggi di Tiongkok.
Pada tahun 1799, Tsar Paul I memberikan piagam kepada Russian-American Company sebagai monopoli yang didukung negara. Tsar memberikan kendali atas perdagangan bulu dan wewenang untuk mengatur koloni tersebut pada perusahaan tersebut. Alexander Baranov menjalankan operasi perusahaan dari tahun 1799 hingga 1818. Ia memindahkan ibu kota Alaska ke Novo-Arkhangelsk, pemukiman yang sekarang dikenal sebagai Sitka.
Perdagangan itu dibangun di atas paksaan. Perusahaan tersebut bergantung pada suku Unangax, atau Aleut, dan Alutiiq. Mereka adalah para pemburu berang-berang laut paling terampil di dunia. Perusahaan memaksa para pria suku tersebut untuk ikut berburu. Ironisnya, terkadang perusahaan menyandera istri dan anak-anak mereka untuk menjamin pekerjaan tersebut.
Akibatnya, korban jiwa sangat besar. Populasi Aleut diperkirakan berjumlah 15.000 hingga 25.000 jiwa ketika Rusia tiba pada tahun 1740-an. Populasi kemudian turun menjadi sekitar 2.000 jiwa pada tahun 1830-an. Mereka hancur karena kerja paksa, kelaparan, dan penyakit yang dibawa dari luar. Semua itu adalah sejarah yang biasanya diabaikan dalam kisah kemenangan Pembelian Alaska.
Jika Perdagangan Bulu Berang-Berang Menguntungkan, Mengapa Rusia Ingin Menjual Alaska?
Pada pertengahan abad ke-19, usaha Rusia di Alaska telah berhenti menghasilkan keuntungan. Puluhan tahun perburuan tanpa henti telah menyebabkan populasi berang-berang laut runtuh. Maka dengan itu satu-satunya sumber pendapatan yang dapat diandalkan yang dimiliki koloni tersebut.
Russian-American Company tergelincir menuju kebangkrutan dan bergantung pada pengiriman dari negara asal untuk bertahan hidup. Wilayah terpencil yang tidak lagi menghasilkan keuntungan menjadi wilayah yang membutuhkan biaya untuk dipertahankan.
Kemudian datanglah perang. Perang Krimea tahun 1853 hingga 1856 mempertentangkan Rusia dengan Inggris, Prancis, dan Kekaisaran Ottoman. Perang itu menguras kas negara dan mengungkap kelemahan fatal koloni tersebut. Alaska berbatasan dengan wilayah Inggris di Kanada. Dan angkatan laut Inggris mengendalikan laut antara Rusia dan koloninya.
St. Petersburg memahami bahwa dalam perang di masa depan, mereka tidak dapat mempertahankan atau memasok kembali Alaska. Mereka juga menyadari jika Inggris dapat dengan mudah merebutnya. Lebih baik menjual koloni itu untuk mendapatkan uang daripada kehilangannya tanpa imbalan apa pun.
Ada satu kekhawatiran lagi, dan itu tentang emas. Rusia belum menemukan emas di Alaska. Tetapi demam emas California tahun 1849 telah menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh penemuan emas.
Para pejabat Rusia khawatir bahwa jika para pencari emas menemukan emas di Alaska, gelombang penambang Amerika dan Inggris akan berdatangan. Dan tidak ada garnisun Rusia yang dapat menahan mereka. Koloni itu akan hilang karena serbuan massa daripada karena tentara.
Menyegel Kesepakatan
Rusia sebenarnya telah mengemukakan ide tersebut sebelumnya, mendekati Amerika Serikat sekitar tahun 1859. Namun Perang Saudara menunda pembicaraan tentang wilayah baru.
Setelah perang berakhir, Kaisar Alexander II memberi wewenang kepada de Stoeckl pada Desember 1866 untuk membuka kembali negosiasi. Menteri tersebut menemukan mitra yang antusias dalam diri Seward. Seward adalah seorang ekspansionis yang berkomitmen yang telah lama menginginkan Alaska. Sesi semalaman mereka menghasilkan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 30 Maret 1867.
Mendapatkan persetujuan dari seluruh negeri lebih sulit daripada membuat kesepakatan itu sendiri. Senat meratifikasi perjanjian tersebut pada tanggal 15 Mei 1867. Namun Senat menunda pembayaran sebenarnya selama lebih dari setahun. Mengapa? Pasalnya, para kritikus mengejek seluruh urusan itu sebagai “Seward’s Folly” dan “Seward’s Icebox”.
Seward’s Icebox merupakan istilah untuk sebuah kekayaan yang dihamburkan untuk kotak es yang tidak berguna.
Transfer formal terjadi di Sitka pada tanggal 18 Oktober 1867, ketika bendera Rusia diturunkan dan bendera Amerika dikibarkan. Cek Departemen Keuangan sebesar 7,2 juta dolar AS bahkan baru dikeluarkan pada tanggal 1 Agustus 1868, yang dibayarkan kepada de Stoeckl.
Apakah Pembelian Alaska Benar-Benar Sebuah Kebodohan?
Selama tiga dekade, ejekan itu tampak pantas, karena Alaska terpencil dan tampaknya kosong. Orang Amerika yang bergegas ke utara mengharapkan kekayaan mudah sebagian besar mendapati bahwa penambangan di sana membutuhkan uang. Dan sebagian besar uang itu tidak mereka miliki.
Populasi Sitka kian menurun seiring dengan kepergian mereka yang kecewa. Putusan itu berbalik pada tahun 1896. Saat itu, penemuan emas Klondike mengirim puluhan ribu orang ke utara dan mengubah Alaska menjadi gerbang menuju ladang emas. Emas yang dikhawatirkan Rusia ternyata nyata. Penemuan emas itu muncul beberapa dekade terlalu terlambat bagi St. Petersburg untuk mengambil keuntungan darinya.
Para kritiskus menganggap Alaska sebagai sebagai gurun beku. Namun, “gurun beku” itu menyimpan emas, minyak, perikanan, dan posisi strategis yang menghadap Pasifik dan Arktik.
Rusia menjual Alaska karena kas negara yang terbebani perang, perdagangan bulu yang lesu, dan garis pantai yang tidak dapat dipertahankan. Semua alasan tersebut menjadikan koloni itu sebagai beban yang tidak mampu mereka pertahankan. Penilaian bahwa mereka telah dirampok tanah tandus tidak bertahan selama satu abad. Dan 2 sen per acre akan tampak seperti kesepakatan yang menguntungkan.
