Seri artikel “Jelajah Meru Betiri” merupakan catatan perjalanan mengeksplorasi kekayaan hayati, konservasi, dan dinamika alam di Taman Nasional Meru Betiri.
Kisah pertama:Jelajah Meru Betiri: Melacak Tanaman Endemik dan Peta Magnetik Tukik
Kisah kedua:Jelajah Meru Betiri: Terapung di Atas Jukung dan Misteri Puluhan Burung
Nationalgeographic.co.id—Matahari pagi tanggal 3 Agustus 2026 menyapa kawasan Teluk Meru dengan kehangatan yang langsung mengusir sisa-sisa kantuk, sementara aroma sedap rawon buatan koki lapangan sudah tercium menggugah selera.
Sarapan pagi itu terasa begitu nikmat dan sukses membangkitkan kembali semangat fisik kami yang sempat terkuras habis akibat pelayaran ombak kemarin.
Namun, kegembiraan menyantap rawon hangat itu seketika berubah menjadi ketegangan ketika panitia mengumumkan jadwal keberangkatan perahu menuju Teluk Permisan dan Rajegwesi.

Saat panitia meminta saya bersiap menaiki perahu yang sama dengan yang dipakai Donny kemarin, ingatan saya langsung melompat pada insiden perahu yang bocor di tengah laut.
Tanpa pikir panjang, rasa takut dan keengganan langsung menguasai diri, membuat saya refleks melangkah mundur menjauhi perahu tersebut dan dengan tegas menolak untuk menaikinya.
Sikap “mundur cantik” saya itu sempat memicu gelak tawa rekan-rekan, tetapi di sisi lain, perasaan bersalah langsung menusuk dada ketika melihat Anya dan beberapa peserta lain akhirnya terpaksa menaiki perahu yang saya tolak itu.
Akankah keputusan refleks saya ini menyelamatkan diri, atau justru meninggalkan kecemasan mendalam atas keselamatan rekan-rekan yang telanjur berlayar?
Kecemasan itu perlahan mencair ketika perahu kami mulai merapat di Teluk Permisan dan saya melihat rombongan Anya tiba menyusul dalam keadaan selamat, meski mereka sempat terluka oleh waktu akibat insiden perahu yang lambat.
Saat panitia meminta saya bersiap menaiki perahu yang sama dengan yang dipakai Donny kemarin, ingatan saya langsung melompat pada insiden perahu yang bocor di tengah laut.
Tanpa pikir panjang, rasa takut dan keengganan langsung menguasai diri, membuat saya refleks melangkah mundur menjauhi perahu tersebut dan dengan tegas menolak untuk menaikinya.
Sikap “mundur cantik” saya itu sempat memicu gelak tawa rekan-rekan, tetapi di sisi lain, perasaan bersalah langsung menusuk dada ketika melihat Anya dan beberapa peserta lain akhirnya terpaksa menaiki perahu yang saya tolak itu.
Akankah keputusan refleks saya ini menyelamatkan diri, atau justru meninggalkan kecemasan mendalam atas keselamatan rekan-rekan yang telanjur berlayar?
Kecemasan itu perlahan mencair ketika perahu kami mulai merapat di Teluk Permisan dan saya melihat rombongan Anya tiba menyusul dalam keadaan selamat, meski mereka sempat terluka oleh waktu akibat insiden perahu yang lambat.
Melalui lensa kamera tele milik Donny dan Anya, kami berkesempatan mengamati dari jarak jauh seekor anak (juvenile) elang jawa yang sedang berdiri di tepi sarangnya. Anak burung berbulu cokelat dan putih itu tampak sesekali mengepakkan sayapnya yang didominasi warna hitam, berlatih menghadapi terpaan angin rimba sebelum nantinya benar-benar belajar terbang bebas.

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Seekor anak elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang kami temui di Taman Nasional Meru Betiri.
Sambil memperhatikan gerak-gerik burung tersebut, Donny sempat berujar, “Kayaknya dia lagi belajar buat terbang atau mengepakkan sayap.”
Meski demikian, Nur Sidiq mengingatkan kami untuk menjaga jarak dan tidak bersuara terlalu bising. Ia menjelaskan bahwa kehadiran manusia yang terlalu dekat dapat memicu stres pada induk burung, yang berisiko berujung pada keputusan tragis berupa pengabaian sarang oleh induknya.

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Ahmad Junaidi (petugas senior TNMB) memimpin rombongan menuju lokasi pemantauan penyu hijau di Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri.
Malam Panjang di Pantai Sukamade
Beranjak dari pengamatan elang, petualangan malam kami bergeser ke pesisir selatan Sukamade untuk mengikuti kegiatan pemantauan penyu bertelur yang dipandu langsung oleh petugas senior TNMB, Ahmad Junaidi.
Tepat pukul delapan malam, Pak Jun, demikian beliau biasa disapa, memberikan briefing singkat mengenai aturan mutlak di pantai peneluran: berjalan tanpa menggunakan lampu sembarangan, menjaga keheningan, dan tidak membuat gerakan mendadak yang bisa mengejutkan penyu betina.
Dengan meraba-raba kegelapan malam, kami berjalan beriringan menyusuri pasir pantai yang dingin di bawah naungan langit yang mulai dihiasi kemegahan moonrise (pemandangan terbitnya bulan purnama pertama dalam hidup saya yang tampak begitu megah di ufuk laut selatan).

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang kami pantau di Pantai Sukamade, di kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Namun, di balik keindahan malam itu, sebuah pemandangan yang mengiris hati tersaji nyata di depan mata kami. Pak Jun menjelaskan secara blak-blakan mengenai tekanan lingkungan yang kini semakin menghimpit populasi penyu hijau (Chelonia mydas) di pesisir Sukamade.
“Ancaman terbesar penyu saat ini bukan lagi sekadar perburuan liar langsung, melainkan gangguan cahaya terang dari lampu bagan nelayan dan aktivitas tambak benur di sekitar perairan luar kawasan,” ungkap Pak Jun dengan nada prihatin saat kami mendampinginya di pasir pantai.
Melalui lensa kamera tele milik Donny dan Anya, kami berkesempatan mengamati dari jarak jauh seekor anak (juvenile) elang jawa yang sedang berdiri di tepi sarangnya. Anak burung berbulu cokelat dan putih itu tampak sesekali mengepakkan sayapnya yang didominasi warna hitam, berlatih menghadapi terpaan angin rimba sebelum nantinya benar-benar belajar terbang bebas.

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Seekor anak elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang kami temui di Taman Nasional Meru Betiri.
Sambil memperhatikan gerak-gerik burung tersebut, Donny sempat berujar, “Kayaknya dia lagi belajar buat terbang atau mengepakkan sayap.”
Meski demikian, Nur Sidiq mengingatkan kami untuk menjaga jarak dan tidak bersuara terlalu bising. Ia menjelaskan bahwa kehadiran manusia yang terlalu dekat dapat memicu stres pada induk burung, yang berisiko berujung pada keputusan tragis berupa pengabaian sarang oleh induknya.

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Ahmad Junaidi (petugas senior TNMB) memimpin rombongan menuju lokasi pemantauan penyu hijau di Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri.
Malam Panjang di Pantai Sukamade
Beranjak dari pengamatan elang, petualangan malam kami bergeser ke pesisir selatan Sukamade untuk mengikuti kegiatan pemantauan penyu bertelur yang dipandu langsung oleh petugas senior TNMB, Ahmad Junaidi.
Tepat pukul delapan malam, Pak Jun, demikian beliau biasa disapa, memberikan briefing singkat mengenai aturan mutlak di pantai peneluran: berjalan tanpa menggunakan lampu sembarangan, menjaga keheningan, dan tidak membuat gerakan mendadak yang bisa mengejutkan penyu betina.
Dengan meraba-raba kegelapan malam, kami berjalan beriringan menyusuri pasir pantai yang dingin di bawah naungan langit yang mulai dihiasi kemegahan moonrise (pemandangan terbitnya bulan purnama pertama dalam hidup saya yang tampak begitu megah di ufuk laut selatan).

Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang kami pantau di Pantai Sukamade, di kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Namun, di balik keindahan malam itu, sebuah pemandangan yang mengiris hati tersaji nyata di depan mata kami. Pak Jun menjelaskan secara blak-blakan mengenai tekanan lingkungan yang kini semakin menghimpit populasi penyu hijau (Chelonia mydas) di pesisir Sukamade.
“Ancaman terbesar penyu saat ini bukan lagi sekadar perburuan liar langsung, melainkan gangguan cahaya terang dari lampu bagan nelayan dan aktivitas tambak benur di sekitar perairan luar kawasan,” ungkap Pak Jun dengan nada prihatin saat kami mendampinginya di pasir pantai.
