Oleh Rieska Wulandari, Jurnalis Terakreditasi Stampa Estera Milano – Verona
Nationalgeographic.co.id—Kabar bencana yang melanda tanah air dalam beberapa pekan terakhir membuat saya sangat berduka. Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban jiwa dilaporkan mencapai 111 orang dan lebih dari 170 ribu warga terpaksa mengungsi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat rentetan gempa susulan yang luar biasa aktif, mencapai lebih dari 10.232 guncangan hingga 31 Agustus 2026.
Di tengah rentetan gempa di Flores, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan yang meluas mulai dari Kalimantan Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, hingga Maluku Utara. Sebuah kehilangan yang sangat besar bagi kita.
Bayangkan, hutan Kalimantan adalah hutan tropis tertua di dunia dengan estimasi usia mencapai 130 hingga 140 juta tahun, jauh lebih tua daripada hutan Amazon di Amerika Selatan yang berusia sekitar 55 juta tahun. Hati saya remuk membayangkan ancaman sirnanya ekosistem yang bertahan hampir tanpa perubahan ekstrem sejak zaman dinosaurus (periode Kapur/Cretaceous).
Tak terbayangkan betapa dalamnya kesedihan masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut selama bergenerasi-generasi. Suku Dayak di Kalimantan, misalnya, memiliki akar sejarah yang membentang antara 4.000 hingga 40.000 tahun lalu. Selama itu pula mereka hidup berharmoni dengan alam: saling menopang dan menjaga. Kehilangan hutan-hutan Nusantara adalah tragedi terbesar bagi kita.
Belum usai penanganan kedua bencana tersebut, kabar duka kembali menyusul dari ranah vulkanologi. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami peningkatan status menjadi Level III (Siaga) akibat erupsi beruntun puluhan kali yang memuntahkan kolom abu kelabu-hitam membumbung tinggi. Sementara itu, di Karo, Sumatra Utara, Gunung Sinabung juga menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi sehingga warga dilarang mendekat dalam radius aman minimal 3 km.
Belum reda kecemasan akibat gempa, wilayah timur Flores kembali diguncang letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki pada Kamis (27/8). Gunung tersebut melontarkan abu tebal setinggi 2.500 meter ke arah barat. Erupsi hebat ini membuat warga di Kecamatan Wulanggintang (Flores Timur) dan Talibura (Sikka) berhamburan keluar rumah dalam kepanikan.
Aktivitas vulkanik berlanjut hingga Jumat (28/8), ketika gunung tersebut kembali meletus selama enam menit dan memuntahkan abu vulkanik setinggi 1.000 meter. Sepanjang Agustus, letusan berskala kecil hingga sedang terjadi hampir setiap hari.
Rentetan bencana yang bertubi-tubi ini terus menghantui pikiran saya. Tak henti doa saya panjatkan sembari berkoordinasi dengan rekan-rekan aktivis di lapangan untuk menyalurkan dukungan moral maupun material.
Di tengah suasana duka tersebut, saya harus menghadiri sebuah pertunjukan atas undangan eksklusif dari sutradara megakonser ternama, Marco Balich. Bulan sebelumnya, ia mengundang saya menghadiri konser musik klasik yang diprakarsainya: “Viva Vivaldi: The Four Seasons Immersive Concert” pada 19 Agustus 2026 di Arena di Verona, Italia, amfiteater legendaris yang telah berdiri lebih dari 2.000 tahun.
Sebuah pergelaran musik klasik bertema lingkungan. Kala menerima undangan tersebut, saya menyanggupinya dengan antusias. Ini kesempatan langka menyaksikan langsung karya sutradara artistik dan produser asal Italia yang reputasinya menjadi jaminan kualitas tingkat dunia.
Di antara rasa sedih dan cemas memikirkan nasib para korban di Tanah Air, saya duduk bersama 10.000 penonton yang memadati arena. Resonansi alunan musik Vivaldi seakan menegaskan kembali bahwa bumi adalah rumah kita bersama. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaganya?
Arena di Verona sendiri memiliki sejarah panjang. Dibangun pada abad ke-1 Masehi, tempat ini dulunya digunakan untuk pertunjukan brutal gladiator dan pertarungan melawan binatang buas. Namun sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi, fungsinya beralih menjadi pusat kebudayaan. Di panggung inilah Balich bersama 29 musisi Fondazione Arena di Verona berhasil memadukan syahdunya musik klasik dengan keindahan proyeksi teknologi 3D modern dari Balich Wonder Studio.
Sepanjang musik mengalun, layar raksasa berbentuk kotak besar semitransparan memayungi para musisi. Layar tersebut menampilkan Proyeksi visual fenomena empat musim, memperlihatkan fase ketenangan hingga gejolak alam. Perpaduan antara keindahan musik dan visual flora yang megah terjalin menjadi satu kesatuan karya yang menggugah nurani kita untuk melindungi alam raya.
Violinis muda berbakat asal Italia, Giovanni Andrea Zanon (yang telah bermusik sejak usia dini) tampil begitu halus saat membawakan karya abadi Antonio Vivaldi, Le Quattro Stagioni (Empat Musim). Tanpa beban, tiap nada terjalin begitu lembut, indah, dan magis. Perpaduan antara talenta, kreativitas, sejarah, dan narasi alam menjadi pengingat yang menyentuh: lindungi keanekaragaman hayati dan hormati irama musim demi mencegah bencana di masa depan.
Sesaat sebelum konser, Balichsempat berbagi pandangan kepada saya, “Saya rasa Indonesia adalah contoh indah tentang bagaimana merawat alam dan merayakan musik. Terlihat dari bagaimana masyarakatnya menyajikan makanan dan merangkai bunga di rumah-rumah, serta hidup berdampingan dengan alam,” ujarnya. Pesan itu terasa menghujam dada saya; apa yang ditangkapnya terasa begitu kontras dengan rentetan bencana yang tengah melanda Indonesia saat ini.
“Bagi kami, Viva Vivaldi: The Four Seasons Immersive Concertadalah perayaan tentang tanda musim dan karena musik ini dibuat pada tahun 1700-an, tidak dekat dengan generasi baru. Jadi apa yang ingin saya lakukan adalah untuk melibatkan generasi muda dengan ‘bahasa yang baru’, oleh karena itu, pertunjukan ini dieksekusi dengan menambah beberapa instrumen visioner seperti layar LED, dan efek pencahayaan dalam rangka memperkuat narasi emosional perayaan alam ini,” terang pria kelahiran Venesia, 23 April 1962 tersebut.
Sentuhannya harus diakui sangat jenius. Pertunjukan musik klasik ini jauh dari kata membosankan, sebuah pergelaran yang membius sekaligus mengajak generasi muda merefleksikan kembali hubungan mereka dengan alam.
Sementara itu, Zanon yang sempat saya temui sebelum pertunjukan menuturkan misinya, “Tujuan utama karier saya adalah membagikan keindahan musik klasik ini kepada generasi muda. Saya yakin mereka akan menyukainya jika diperkenalkan dengan cara yang tepat.”
Musik yang dibawakan malam itu merupakan mahakarya Antonio Vivaldi, komponis legendaris sekaligus violinis virtuoso asal Venesia abad ke-18 yang dijuluki “Il Prete Rosso” (Sang Pendeta Merah). Balich kembali menegaskan bahwa membawakan musik klasik kepada generasi muda memang membutuhkan pendekatan baru, termasuk lewat pemanfaatan teknologi secara bijak.
“Jadi semua yang menimbulkan emosi untuk membangun peradaban manusia, tentang rapuhnya bumi dan bagaimana menjaga integritas planet ini, adalah kewajiban kita, demi generasi mendatang. Saya rasa ini adalah tanggung jawab Balich studio,” tegasnya.
Ia juga mengenang kembali kesannya saat terlibat dalam pembukaan Asian Para Games di Jakarta. “Sedemikian besar isu lingkungan menjadi tema utama bagi pemerintah dan komite Asian games, oleh karena itu saya sangat gembira kalau kita bisa membawa konser Vivaldi Ke Indonesia, itu akan jadi mimpi saya, karena sensitivitas orang Indonesia pada lingkungan, sangat dekat dengan tema yang kita bawakan malam ini,” tambah Balich.

Balich Studio
Salah satu penampilan dalam Viva Vivaldi: The Four Seasons Immersive Concert, di Arena di Verona, Italia, 19 Agustus 2026.
Di tengah gempuran pesat kecerdasan buatan (AI), kembali menghayati alam dan seni murni menjadi sebuah keharusan. Ketika ditanya mengenai ancaman teknologi terhadap musik pertunjukan, Zanon optimistis bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan jiwa seorang musisi serta aura konser langsung.
“Saya yakin AI bisa membantu dunia musik, tapi saya rasa AI tidak bisa menggantikan sensasi indahnya penampilan langsung,” tutur musisi kelahiran Castelfranco Veneto, 16 Februari 1998 tersebut. Menurutnya, cara terbaik untuk menikmati musik klasik adalah dengan hadir secara fisik, duduk, dan meresapi energinya secara langsung.
Pertunjukan spektakuler ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Arena di Verona 2026, setelah pada malam sebelumnya sukses memukau penonton lewat pemutaran perdana Paganini Paradise.
Melangkah keluar dari Arena, hati saya masih diselimuti kecemasan atas berbagai bencana di Nusantara. Namun, pertunjukan malam itu memberikan secercah harapan: bahwa melalui seni dan teknologi, generasi muda dapat terus diingatkan bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada menjaga kelestarian bumi tempat kita berpijak.
