Ketika Satwa Liar Dijadikan Tontonan: Mengapa Pertunjukan Orang Utan ‘Mesum’ Perlu Dihentikan?

Nationalgeographic.co.id—Bayangkan Anda datang ke sebuah tempat wisata untuk melihat orang utan. Alih-alih menyaksikan satwa itu berayun di antara pepohonan, mencari makanan, atau berinteraksi dengan kelompoknya, Anda justru melihatnya mengenakan pakaian dan dipaksa melakukan aksi layaknya manusia—bahkan dalam pertunjukan yang mengandung unsur seksual.

Bagi sebagian wisatawan, pemandangan semacam itu mungkin dianggap menghibur. Namun, bagi para peneliti, pertunjukan tersebut menunjukkan persoalan yang jauh lebih serius: bagaimana satwa liar diperlakukan sebagai objek hiburan demi memenuhi keinginan manusia.

Salah satu contoh yang paling ekstrem adalah pertunjukan “orangutan kickboxing” di Safari World Bangkok dan sejumlah taman satwa serupa. Dalam pertunjukan tersebut, orang utan didandani dengan bikini atau seragam, kemudian dipaksa melakukan berbagai aksi menyerupai perilaku manusia, termasuk gerakan yang mesum atau bernuansa seksual.

Associate Professor Georgette Leah Burns dari Griffith University, salah satu penulis studi mengenai pertunjukan orang utan, menilai praktik semacam ini bukan sekadar persoalan kesejahteraan hewan.

“Praktik ini tidak hanya membahayakan kesejahteraan satwa, tetapi juga merupakan pelanggaran serius terhadap martabat dan penghormatan terhadap mereka,” kata Burns dalam keterangan tertulis Griffith University.

Menurutnya, ketika satwa dipaksa tampil sebagai tontonan, mereka kehilangan posisi sebagai makhluk hidup yang memiliki kehendak dan kepentingan sendiri.

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya apakah orang utan mengalami stres atau hidup dalam kondisi yang buruk. Yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia memandang dan memperlakukan satwa tersebut.

Wisata satwa tidak selalu berarti konservasi

Pertumbuhan industri wisata satwa liar sebenarnya muncul dari kebutuhan manusia untuk kembali berinteraksi dengan alam. Urbanisasi dan kerusakan habitat membuat kesempatan untuk bertemu satwa liar di lingkungan alaminya semakin berkurang. Akibatnya, kebun binatang, taman satwa, pusat rehabilitasi, dan berbagai atraksi wisata menjadi tempat utama bagi banyak orang untuk melihat satwa dari dekat.

Masalahnya, tidak semua bentuk interaksi tersebut memberikan manfaat bagi satwa maupun konservasi. Burns dan rekan penelitinya mengungkapkan hal tersebut makalah studi mereka yang berjudul “What’s Wrong with Orangutan Kickboxing Shows? Scrutinizing Wildlife Tourism as a Form of Visual Consumption“.

Studi yang makalahnya telah terbit di Journal of Agricultural and Environmental Ethics itu menyoroti konsep wisata satwa liar nonkonsumtif—yakni kegiatan wisata yang tidak melibatkan perburuan atau pembunuhan satwa. Meski terdengar lebih ramah lingkungan, kegiatan semacam ini tetap dapat menimbulkan dampak negatif.

Satwa bisa mengalami stres, hidup dalam kondisi yang tidak layak, atau dipaksa melakukan perilaku yang tidak alami. Lebih jauh lagi, cara satwa ditampilkan kepada wisatawan dapat membentuk persepsi publik tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan hewan.

Di sinilah para peneliti melihat persoalan yang sering luput dari perhatian: satwa bukan sekadar objek yang bisa dilihat, difoto, atau ditampilkan untuk menghibur manusia.

Bukan semata-mata soal satwa yang dipelihara

Studi ini tidak mengatakan bahwa semua satwa yang berada dalam penangkaran pasti mengalami perlakuan buruk. Menurut para peneliti, persoalannya terletak pada bagaimana satwa tersebut “ditampilkan” dan kemudian dikonsumsi oleh pandangan wisatawan.

Dalam konteks ini, wisatawan menjadi penonton, sedangkan satwa ditempatkan sebagai objek tontonan.

Burns dan koleganya mendorong industri wisata satwa untuk meninggalkan cara pandang yang terlalu berpusat pada manusia atau antroposentris. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan pendekatan yang disebut “ethics of sight”—sebuah cara pandang yang menempatkan pengalaman melihat satwa dalam kerangka etika.

Intinya sederhana: wisatawan tetap boleh melihat dan menikmati keberadaan satwa, tetapi pengalaman tersebut seharusnya mendorong penghormatan, bukan eksploitasi.

“Aktivitas harus dirancang untuk mendorong pemahaman bahwa satwa adalah individu yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar hiburan,” ujar Burns.

Dari tontonan menuju pemahaman

Menurut para peneliti, endekatan semacam itu bisa mengubah tujuan wisata satwa. Alih-alih membuat orang utan menari, berkelahi, mengenakan kostum, atau melakukan aksi yang mengundang tawa, pengalaman wisata dapat diarahkan untuk memperkenalkan perilaku alami satwa, habitatnya, ancaman yang dihadapinya, serta peran manusia dalam menjaga kelangsungan hidupnya.

Dengan demikian, wisata tidak berhenti pada pengalaman “melihat hewan”, tetapi berkembang menjadi kesempatan untuk memahami kehidupan satwa.

Ini penting karena salah satu tujuan wisata satwa adalah membangun kepedulian terhadap konservasi. Namun, pertunjukan yang menjadikan satwa sebagai bahan lelucon atau tontonan justru berisiko menghasilkan hal sebaliknya.

Jika orang utan hanya dikenali sebagai hewan yang bisa memakai pakaian, menendang, menari, atau meniru manusia, wisatawan mungkin pulang dengan kesan terhibur, tetapi belum tentu dengan pemahaman yang lebih baik tentang orang utan sebagai satwa liar.

Industri wisata perlu bercermin

Pertumbuhan wisata satwa liar membuat pertanyaan tentang etika semakin sulit dihindari. Ketika semakin banyak orang ingin melihat satwa dari dekat, industri pariwisata memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa permintaan tersebut tidak dibayar dengan penderitaan satwa.

Bagi Burns dan rekan penelitinya, masa depan wisata satwa seharusnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang ingin dilihat wisatawan, tetapi juga oleh bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi satwa yang menjadi pusat perhatian.

“Seiring dengan terus berkembangnya wisata satwa liar, penelitian ini menantang industri untuk meninjau kembali landasan etikanya dan bergerak menuju model interaksi yang lebih berbelas kasih dan menghormati satwa,” tegas Burns.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Seberapa menghibur pertunjukan satwa ini?”, melainkan “Apa yang kita pelajari tentang satwa dari pertunjukan tersebut—dan berapa harga yang harus dibayar oleh satwa untuk menghibur kita?”

Sebab, wisata satwa yang benar-benar bertanggung jawab semestinya membuat manusia semakin menghargai satwa liar, bukan semakin pandai menjadikannya tontonan.

Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *