
Dengan konflik kekerasan yang terjadi di seluruh dunia saat ini, perang terasa seperti kondisi permanen. Tetapi pernahkah manusia hidup tanpa perang?
Jawabannya bergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan “perang”. Jika perang berarti pertarungan antara dua pemerintah, maka ya, pernah ada periode damai. “Karena selama hampir 99% sejarah manusia, tidak ada pemerintah,” kata Ian Morris, seorang sejarawan di Universitas Stanford.
Kekerasan, di sisi lain, selalu ada bersama kita. Jika pertanyaannya menjadi “Pernahkah manusia hidup tanpa kekerasan?” maka “jawabannya cukup jelas tidak. Manusia selalu bertarung,” kata Morris.
Teori Prasejarah yang Damai
Menurut tinjauan studi tahun 2022, perang jarang terjadi atau tidak ada sama sekali dalam sejarah awal manusia. Di masa itu, orang-orang hidup sebagai pemburu-pengumpul nomaden. Studi tersebut bertajuk “The prehistory of violence and war: Moving beyond the Hobbes–Rousseau quagmire”.
Peter Stearns, profesor di George Mason University, setuju dengan gagasan ini. “Hampir tidak ada perang dalam budaya berburu dan mengumpulkan sebelum munculnya pertanian,” ungkapnya.
Gagasan ini didasarkan pada catatan arkeologis. Para peneliti yang memeriksa tulang manusia purba dari seluruh dunia mencari bukti kerangka cedera perang. Misalnya pada banyak individu dengan luka yang belum sembuh akibat tusukan dan sayatan. Juga trauma benda tumpul. Kerangka itu diperoleh di kuburan massal.
Namun, mereka menemukan sedikit bukti cedera perang sebelum 8000 SM. Manusia kemudian mulai beralih dari kehidupan nomaden ke permukiman permanen. Saat itu cedera semacam itu muncul secara luas.
Hal ini tidak berarti bahwa kekerasan mematikan tidak ada dalam masyarakat prasejarah. Para peneliti di Kenya menemukan 27 kerangka yang berasal dari 10.000 tahun yang lalu di situs arkeologi Nataruk. Kerangka-kerangkanya menunjukkan tanda-tanda kematian akibat kekerasan. Beberapa antropolog menafsirkannya sebagai bukti kekerasan antar kelompok di antara para pemburu-pengumpul awal. Dan di Jebel Sahaba, sebuah permakaman prasejarah di Sudan, para arkeolog menggali sisa-sisa berusia 13.000 tahun. Mereka menemukan tanda-tanda serangan antar kelompok.
Namun, kasus-kasus kekerasan antarindividu ini tidak dianggap sebagai perang, karena cara para peneliti biasanya mendefinisikannya.
“Sebagian peneliti biasanya mendefinisikan perang dengan mengatakan bahwa itu harus berupa kekerasan yang diorganisir oleh pemerintah. Atau kekerasan kolektif yang mengeksekusi lebih dari sejumlah orang tertentu,” jelas Morris.
“Masyarakat prasejarah jarang memiliki pemerintahan formal. Dan kelompok pemburu-pengumpul jarang memiliki lebih dari beberapa lusin anggota. Mereka mendefinisikan perang sebagai konflik yang dijalankan oleh pemerintah atau konflik yang memakan korban >100 orang. Karena itu, maka menurut definisi tidak mungkin ada perang di awal prasejarah,” Morris menambahkan.
David Christian, seorang sejarawan, turut menggemakan gagasan ini. “Sepanjang sejarah manusia, komunitas sangat kecil sehingga tidak jelas apakah kita dapat menyamakan kekerasan dengan perang,” katanya. “Saya kira kita dapat mengatakan bahwa manusia selalu mampu melakukan kekerasan. Dan seiring komunitas menjadi lebih besar, kekerasan itu mulai mengambil bentuk yang mungkin ingin kita gambarkan sebagai ‘perang’.”
Perdamaian antara Kekuatan yang Bersaing
Setelah kerajaan dan kekaisaran besar muncul, perang menjadi sangat umum. Sebuah tesis ditulis oleh Jared Morgan McKinney, berfokus pada periode perdamaian antara kekuatan-kekuatan besar. Ia menyimpulkan bahwa perang pada dasarnya adalah hal yang lazim sepanjang sejarah. Dan bahwa era “damai” yang terkenal, seperti Pax Romana (Perdamaian Romawi), biasanya hanya berarti satu kelompok kuat telah menaklukkan semua kelompok lain.
Namun ada pengecualian. “Perang itu mahal dan berisiko,” kata Peter Frankopan, seorang profesor sejarah global di Oxford University. “Jadi, dalam banyak periode sejarah, stabilitas dan perdamaian dicapai oleh pesaing, musuh, dan tetangga yang mampu menandingi kemampuan satu sama lain.”
McKinney mengidentifikasi beberapa periode ketika kekuatan-kekuatan yang bersaing berhasil menghindari perang.
Dari tahun 1400 hingga 1200 SM, kekuatan-kekuatan besar di Timur Tengah kuno mengalami dua periode panjang tanpa perang besar. Kondisi tersebut tidak biasa. Terutama terutama Mesir dan Kekaisaran Het. Perdamaian dimungkinkan karena “Raja-Raja Agung” saling mengakui sebagai setara. Para raja juga menyelesaikan perbedaan teritorial dan politik mereka melalui perjanjian formal daripada perang. Selama sebagian besar sejarahnya, Romawi kuno dan Persia berperang. Kemudian, dari sekitar tahun 387 M hingga sekitar tahun 501 M, kedua kekaisaran adidaya tersebut sebagian besar berhenti berperang. Sejarawan menyebut ini sebagai “Abad Kelima yang Panjang”. Sejarawan mengajukan banyak penjelasan untuk periode perdamaian ini. Salah satunya adalah kedua belah pihak menghadapi ancaman eksternal serius yang membuat pertempuran menjadi kurang terjangkau. Juga bahwa kedua belah pihak mengembangkan bahasa “persaudaraan” yang mengakui satu sama lain sebagai setara daripada musuh.
Tesis McKinney bertajuk “Periods of Peace Between Major Powers in World History”.
Antara sekitar tahun 1000 dan 1200 M, Dinasti Song Kekaisaran Tiongkok mengamankan perdamaian dengan tetangga utaranya yang militan, Liao dan Jin. Kekaisaran Tiongkok membayar mereka secara teratur untuk menjaga perdamaian. Meskipun hadiah uang (atau suap) ini tampak seperti kelemahan. Pembayaran tersebut sangat kecil dibandingkan dengan apa yang diperoleh Kekaisaran Tiongkok melalui perdagangan, menurut McKinney.
Contoh lain, menurut Morris, adalah “perdamaian panjang” antara Tiongkok, Korea, dan Jepang antara sekitar tahun 1600 dan 1850. Negara-negara Eropa menghabiskan berabad-abad tersebut bersaing untuk kekuasaan dan wilayah melalui perang. Sementara itu, negara-negara Asia Timur hidup dalam perdamaian relatif.
“Di Eropa, kita cenderung jauh lebih agresif dan kompetitif, yang memberi kesan bahwa perang adalah ‘keadaan alami’,” kata Frankopan.

Periode perdamaian relatif yang terkenal di Amerika Utara adalah Perdamaian Panjang di antara bangsa Iroquois. Selama kurang lebih 3 abad, dari sekitar tahun 1450 hingga 1777, bangsa asli Amerika menjalin hubungan damai yang dikenal sebagai League of Five Nations. Sebelumnya, mereka terlibat dalam konflik kekerasan dan mahal.
Di Amerika Selatan, McKinney menunjuk pada South American Long Peace. Masa itu merujuk pada tidak adanya perang antarnegara besar antara negara-negara berdaulat di Amerika Selatan sejak 1935.
“Perang adalah ‘normal’ dalam sejarah,” kata McKinney. Tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh contoh-contoh ini, “pola memiliki pengecualian.”
—
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranalaWhatsApp ChanneldanGoogle News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.
