DILUAR BAYANGAN TERNYATA GLADIATOR TIDAKLAH HANYA MEMAKAN DAGIN BURUAN MEREKA

Gladiator mewakili atlet terhebat di zaman Romawi kuno. Dan seperti saat ini, diet menjadi salah satu fokus utama para atlet. Namun, yang mengejutkan, diet gladiator tidak terdiri dari daging yang kaya protein. Diet mereka adalah vegetarian.
Dan itu bukan karena kurangnya pengetahuan nutrisi. “Diet gladiator dibuat dengan pemahaman, dipantau dengan cermat, dan bahkan diawasi secara medis,” tulis Greg Beyer di laman The Collector.
Penelitian Sisa Tulang Gladiator Romawi Kuno
Meskipun teks-teks kuno menyebutkan diet vegetarian para gladiator, bukti terkuat berasal dari kerangka para gladiator yang hidup 2.000 tahun yang lalu.
Tulang-tulang gladiator Romawi dari kota Efesus (di Turki) mengungkapkan beberapa hal mengejutkan tentang diet mereka. Kacang-kacangan dan biji-bijian membentuk sebagian besar makanan mereka. Penemuan itu mendukung catatan sejarah di mana para gladiator mendapatkan julukan “hordearii” atau “pemakan jelai”.
Yang perlu diperhatikan dalam penemuan ini adalah nilai stronsium dan kalsium dalam tulang. Ditemukan penumpukan stronsium yang menunjukkan asupan vegetarian tinggi. Rasio stronsium terhadap kalsium juga menunjukkan bahwa teks-teks kuno itu benar. Bahwa para gladiator Romawi kuno meminum minuman abu tumbuhan sebagai suplemen makanan.
Dokumentasi dari Zaman Kuno
Analisis tulang modern didukung oleh teks-teks sejarah yang membahas diet gladiator. Pliny the Elder terkenal menyebut gladiator sebagai pemakan jelai. Sementara catatan kontemporer lainnya mencatat fokus yang sama pada diet kaya karbohidrat.
Diet gladiator tidak dirancang untuk menciptakan mesin tempur pamungkas. Diet ini dirancang untuk pertunjukan. Gladiator memiliki lebih banyak lemak daripada kebanyakan orang. Dan lapisan ekstra ini melindungi organ vital dari luka. Apa yang akan menjadi luka dalam bagi orang lain adalah luka ringan bagi gladiator. Karena itu, mereka mampu terus bertarung. Bahkan dengan tubuh yang terluka dan berdarah, para gladiator ini tetap membuat penonton bersorak.
Seorang dokter Yunani bernama Galen (129–sekitar 216 M) mencatat, “Kacang fava juga banyak digunakan. Para gladiator kita banyak mengonsumsi makanan ini setiap hari, membuat kondisi tubuh mereka menjadi berisi. Namun tubuhnya bukan berisi bukan daging yang padat dan kenyal seperti daging babi, tetapi daging yang agak lebih lembek.”
Adapun minuman abu, ini juga dibuktikan dalam teks-teks kuno. Pliny mengutip penulis terkenal, Marcus Varro. Varro menyatakan bahwa larutan alkali dari perapian harus diminum sebagai obat untuk kram perut dan memar. Dan bahwa itu adalah makanan pokok para gladiator. Ternyata larutan itu bukan takhayul, namun didasarkan pada sains. Dan itu berhasil.

Makanan gladiator Romawi kuno ternyata berbeda dari gambaran populer yang identik dengan daging dalam jumlah besar. Penelitian terhadap sisa-sisa tulang gladiator menunjukkan bahwa mereka lebih banyak mengonsumsi makanan berbasis tumbuhan, sehingga dijuluki “hordearii” atau “pemakan jelai (barley eaters).”
Profesor Fabian Kanz dari Medical University of Vienna menyatakan, “Keadaan saat itu mirip dengan apa yang kita lakukan saat ini. Kita mengonsumsi magnesium dan kalsium (dalam bentuk tablet, misalnya) setelah melakukan aktivitas fisik.”
Minuman abu ini dapat dianggap sebagai salah satu—jika bukan yang pertama—minuman olahraga, yang mengandung sejumlah elektrolit penting.
Tidak Makan Daging karena Keadaan
Vegetarianisme bagi gladiator bukanlah didorong oleh ideologi (akan ada ironi tertentu jika memang demikian). Hal itu didorong oleh faktor medis dan ekonomi.
Gladiator merupakan investasi signifikan bagi lanistae, yang memiliki, melatih, dan memperdagangkan gladiator. Pada akhirnya, kekhawatiran mereka adalah finansial. Mereka ingin gladiator memberikan tontonan, tetapi mereka juga sangat tertarik untuk menjaga mereka tetap hidup. Gladiator yang mati tidak dapat menghasilkan keuntungan.
Diet vegetarian memiliki beberapa keuntungan. Selain memberikan massa otot pada gladiator, diet ini jauh lebih murah daripada daging. Daging lebih umum ditemukan di piring masyarakat yang lebih kaya daripada di mangkuk gladiator. Dan bagaimanapun juga, gladiator masuk dalam kelompok budak.
Bangsa Romawi kuno memahami kinerja dan diet 2.000 tahun sebelum munculnya “ilmu olahraga”. Padahal, ilmu olahraga mungkin dianggap sebagai dinamika yang sepenuhnya modern. Sebelum atlet modern dilayani oleh ahli gizi, bangsa Romawi sudah mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar dan suplemen kalsium.
Dan bagaimanapun penampilan mereka, media mengubah mereka menjadi superstar. Media menghilangkan lemak berlebih dan menggambarkan mereka dalam proporsi heroik.
